Jumat, 16 Mei 2014

Reformasi Dibidang Hukum Menuju Terciptanya Keadilan


Pada masa pemerintahan orba telah di dengungkan pembaruan bidang hukum,namun pada realisasinyaproduk hukum pada masa itu tetap tidak melepaskan karakter elitenya. DPR pada masa orba cenderung telah berubah fungsi, sehingga produk yang disahkan DPR bukan memihak kepentingan rakyat, melainkan memuaskan penguasa.pembaruan hukum selama orbajauh dari maksud reformasi hukum. sebaliknya, justru makin memperkukuh dominasi
Penguasa yang mengecilkanhak-hak publik.
tumbangnya pemerintahan Soeharto belum cukup sebagai syarat untuk reformasi hukum, tetapi harus diikuti dengan reformasi secara total. Sehinggga terbentuk DPR dan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.
Target reformasi hukum menyangkut tiga hal, yaitu substansi hukum, aparatur penegak hukum yang bersih dan berwibawa, serta instuisi yang independen.

Pada masa pemerintahan BJ Habibie bertekad melakukan reformasi hukum sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Salah satu tahap menuju reformasi hukum, beliau melakukan tahap rekonstruksi atau pembongkaran atas watak bangunan hukum orba. Untuk membongkar berbagai produk undang-undang orba maka akan tampak adanya karakter hukum yang mengebiri hak-hak masyarakat. Dalam berbagai undang-undang terdapat pasal-pasal yang umumnya memberikan peluang besar dominasi kekuasaan eksekutif pada DPR dan masyarakat.  Karakter hukum selama 30 tahun dalam masa pemerintahan orba cenderung konservatif/ortodoks/elite. Kondisi tersebut dalam pengetian produk hukum, isinya mencerminkan keinginan pemerintah yang bersifat positif-instrumentalis, yakni menjadi lat bagi pelaksanaan ideologi program kerja.Dampak produk hukum orba sangat tidak kondusif untuk menjamin perlindungan HAM dan berkembangnya demokrasi serta munculnya kreativitas masyarakat. Daya kritis masyarakat tidak berkembang, terbelenggu berbagai tembok aturan.Aturan hukum yang buruk dan berkarakter konsevatif tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab hukum khususnya UU sekedar merupakan produk pemerintah dan DPR.
Orde baru mula-mula demokratis, namun berubah menjadi nondemokratis. Konfigurasi politisi yang nondemokrastis selama orba menyebabkan UU tak mencerminkan keadilan dan demokrasi.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa reformasi berperan penting dalam perjalanan hukum di Indonesia. Sejak reformasi 1998, UU di Indonesia banyak mengalami bongkar pasang sebagai akibat dari kebebasan rakyat Indonesia dalam mengemukakan pendapat dan aspirasinya. Reformasi hukum telah menelurkan banyak UU, mulai UU anti korupsi, UU yang mengatur masalah HAM, kebebasan beragama dan lain sebagainya. Reformasi hukum memberikan dampak positif dan juga beberapa dampak negatif. Karena itu diperlukan campur tangan pemerintah dalam menyelaraskan alat, perangkat dan pejabat dalam bidang hukum, agar tercipta sinergi yang baik yang dapat menciptakan hukum yang adil dan merata.

Tanggung Jawab Terhadap Keluarga

Tanggung Jawab Keluarga , disini saya akan membahas tentang tanggung jawab terlebih dahulu, tanggung jawab sendiri terdiri dari dua kata yaitu tanggung dan jawab .Tanggung adalah suatu beban yang harus diterima oleh seseorang sebagai suatu titik acuan orang tersebut bagaimana cara mengatasi suatu tanggungan atau beban tersebut agar tidak menjadi beban hidup orang tersebut. Jawab disini mengartikan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan agar dapat menjalani kehidupan dengan baik.Sehingga , Tanggung jawab berarti bahwa suatu beban yang dilimpahkan kepada seseorang yang wajib dan harus diselesaikan oleh orang tersebut agar kehidupan orang tersebut lebih baik.
Keluarga adalah sekelompok orang atau manusia yang berada disekeliling kita di saat kita sedih maupun senang dan keluarga adalah orang yang harus membantu satu sama lain terhadap anggota Keluarga.
Tanggung jawab keluarga disini berarti bahwa suatu beban atau tanggungan yang wajib dilaksanakan oleh seseorang untuk keluarga orang tersebut agar keluarga orang tersebut lebih baik dan lebih harmonis di dalam lingkungan keluarga itu sendiri , masyarakat , maupun dalam lingkungan bernegara.
Tanggung jawab terhadap keluarga antara lain :
  • ·         Menjaga nama baik keluarga.
  • ·         Membantu sluruh anggota keluarga semampunya.
  • ·         Mencari nafkah bagi orangtua untuk menghidupi keluarga.
  •        Mengajari segala hal yang positif kepada Anggota keluarga.

Harapan Pada Pemilu Kali Ini

Harapan Saya Pada Pemilu Tahun ini , Yaitu :
Mengenai Kemajuan Bangsa dan Negara :

1.Bangsa mendapat pemimpin yang bijaksana sehingga dapat menjadikan negara ini semakin baik.

2.Bangsa mendapat pemimpin yang kuat sehingga dapat menjadikan negara ini berani dalam menghadapi segala masalah.

3.Bangsa mendapat pemimpin yang terampil sehingga dapat menjadikan negeri ini sebagai negeri yang kreatif dan dapat tampil di mata dunia.

4.Bangsa mendapat pemimpin yang tegas sehingga dapat menjadikan negeri ini menjadi disiplin dan taat terhadap peraturan yang ada.

5.Bangsa mendapa pemimpin yang agamis , sehingga seluruh bangsa dapat menjalankan berbagai kegiatan agama masing-masing dengan tenang , aman ,dan khusyu dalam menjalankannya. Terutama dalam agama islam.

Dalam Berbagai Bidang :
1.Pendidikan : Saya harap dengan terpilihnya pemimpin yang seperti kriteria yang saya telah sebutkan bahwa , saya menginginkan kalau pendidikan di indonesia dimajukan lagi , stop semua nepotisme dan lain-lain yang menghambat atau mengakibatkan beberapa orang yang sebenarnya harus atau dapat masuk kedalam suatu Bidang pengajaran (perguruan tinggi ,SMA ,SMP ,SD dan lain=lain) menjadi terhempas karena adanya kkn dan lain lain dibalik layar(secara diam-diam).

2.Kesehatan : Saya harap dengan terpilihnya pemimpin yang seperti kriteria yang saya telah sebutkan bahwa, saya menginginkan kalau kesehatan di indonesia tidak pilih kasih , jadi jika ada orang sakit parah walau tidak mampu sebaiknya didahulukan terlebih dahulu , jangan malah didiamkan sehingga menyebabkan orang tersebut sampai meninggal dunia.

3.Ekonomi : Saya harap dengan terpilihnya pemimpin yang seperti kriteria yang saya telah sebutkan bahwa , saya menginginkan kalau perekonomian indonesia kedepannya lebih maju lagi dengan mendirikan banyak usaha usaha pribumi dan mengurangi beberapa usaha usaha dari luar .


4.Politik : Saya harap dengan terpilihnya pemimpin yang seperti kriteria yang saya telah sebutkan bahwa , saya menginginkan bahwa politik indonesia tidak memalukan seperti saat ini , karena ingin memenangkan suara dengan cara memberi iming iming kepada warga sehingga mendapatkan suara , tetapi ketika menjadi suatu anggota Legislatif , eksekutif maupun yudikatif , mereka lupa akan segala janji mereka yang telah dilontarkan .

Jumat, 02 Mei 2014

Kasus Pembunuhan Ade Sara

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu pelaku pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19), Ahmad Imam al Hafitd meminta sarung dan buku ketika hendak kembali ke tahanan. Dia meminta hal itu kepada kuasa hukumnya, Hendrayanto, seusai menjalani rekonstruksi pembunuhan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (3/4/2014). 

"Setelah rekonstruksi, saya temui dia, dia hanya minta sarung dan buku ilmu pengetahuan," kata Hendra, Jumat (4/4/2014). 

Hendra berujar, Hafitd juga sempat melontarkan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya. Oleh karena itu, dia meminta buku.

Sementara itu, berdasarkan rekonstruksi yang dilakukan, Hafitd terlihat sangat berperan dalam pembunuhan tersebut. Namun, bagi Hendra, hal itu diterima oleh pihaknya. 

"Setidaknya dia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri," ucapnya. 

Dia mengatakan, Hafitd merasa menyesal atas kejadian itu. Dalam melakukan rekonstruksi, Hafitd pun disebutnya terlihat sangat tegang dan takut bahkan menangis dan memeluk Hendra. 

Rekonstruksi pembunuhan Ade Sara digelar penyidik Jatanras Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kamis (3/4/2014). Adegan dalam rekonstruksi tersebut diperankan langsung oleh pelaku pembunuhan, Hafitd dan Syifa, di tempat kejadian perkara sesungguhnya mobil KIA Visto silver nomor polisi B8328JO. 

Sebanyak 43 adegan digelar dalam rekonstruksi yang berlokasi di Mapolda Metro Jaya dan Tol JORR ruas Bintara KM 49, Bekasi. Selain penyidik penggelar rekonstruksi, juga turut hadir orang tua Ade Sara menyaksikan kegiatan itu.


Kelainan yang dialami pelaku pembunuhan.

menurut saya latar belakang pembunuhan yang terjadi disebabkan oleh kelainan pada pelaku pembunuhan . kelainan tersebut dialami oleh dua sejoli yang mendapat pengaruh dari beberapa film atau pergaulan yang kurang baik dan juga kurangnya benteng iman dan pengetahuan agama yang dimiliki oleh pasangan tersebut , sehingga tidak ada rasa bersalah atau tidak berfikir panjang ter lebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan .


Jumat, 17 Januari 2014

Tugas ISD Tentang Konflik Batin

Tugas ISD Tentang Konflik Batin
Konflik , dalam kehidupan kita bermasyarakat di dunia ini paski kita akan selalu dihadapkan oleh sebuah konflik . Apakah itu konflik ?, konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi .Konflik ada beberapa macam , diantaranya adalah : Konflik Fisik , Konlik pendapat dan Konflik Batin . Konflik Fisik adalah pertentangan yang terjadi pada seseorang yang berhubungan dengan fisik yaitu : kekerasan fisik , dll. Konflik Pendapat adalah Konflik yang berhubungan tentang perbedaan pendapat yang terjadi pada sekelompok orang , contoh : Pertentangan pada saat bermusyawarah. Dan terakhir yang akan di bahas di sini yaitu Konflik Batin , Konflik Batin adalah konflik yang terjadi pada perasaan hati seseorang , contoh : pemilihan keputusan Antara yang benar dan salah pada diri seseorang yang membuat orang tersebut bumbang.


Konflik Batin yang terjadi pada diri saya adalah ketika saya harus memutuskan sesuatu apakah hal tersebut harus dilakukan atau tidak , selalu saja saya membuat suatu persepsi sebelum saya memutuskan dan hal tersebut selalu membingungkan saya . mungkin hanya hal tersebut lah yang menjadi konflik batin pada diri saya 

Tugas ISD Tentang Pelapisan di Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah
            Didalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai  latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dalam kelompok-kelompok sosial inilah maka akan terbentuk suatu pelapisan yang tanpa disadari sendiri oleh masyarakat.
            Sifat perhubungan antara manusia dan lingkungan masyarakat pada umunya adalah timbal balik, artinya orang seorang itu sebagai anggota masyarakat, mempunyai hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah dan negara. Beberapa hak dan kewajiban penting ditetapkan dalam undang-undang sebagai hak dan kewajiban asasi. Untuk dapat melaksanakan hak dan kewajiban ini dengan bebas dari rasa takut perlu adanya rasa jaminan.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pelapisan sosial itu sendiri?
2.      Apa saja teori pelapisan sosial?
3.      Apa saja dasar pembentukan pelapisan sosial?
4.      Apa saja sifat pelapisan sosial?
5.    Bagaimana terjadinya pelapisan social.

C. Tujuan
Adapun tujuan penulis adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Qiroatul Qur’an, selain itu juga ada beberapa tujuan diantaranya :
a. Mengetahui lebih jauh tentang Pelapisan Sosial
b. Untuk menambah wawasan dan pengalaman kami sebagai mahasiswa/ i.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pelapian Sosial
Pelapisan social disebut juga stratifikasi atau stratification berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang artinya LAPISAN. Karna itu social stratification sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sejumlah induvidu yang memiliki kedudukan (status) yang sama menurut ukuran masyarakat, dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum.
Pengertian pelapisan social menurut beberapa ahli, diantaranya yaitu:
1.      Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis).
2.      P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
3.      Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.



B. Beberapa Teori Tentang Pelapisan Sosial
Bentuk konkrit daripada pelapisan masyarakat ada beberapa macam. Ada yang membagi pelapisan masyarakat seperti:

1) Masyarakat terdiri dari Kelas Atas (Upper Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
2) Masyarakat terdiri dari tiga kelas, yaitu Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
3) Sementara itu ada pula sering kita dengar : Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class), Kelas Menengah Ke Bawah (Lower Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).

Para pendapat sarjana memiliki tekanan yang berbeda-beda di dalam menyampaikan teori-teori tentang pelapisan masyarakat. seperti:
Aristoteles membagi masyarakat berdasarkan golongan ekonominya sehingga ada yang kaya, menengah, dan melarat.
-Prof.Dr.Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH.MA menyatakan  bahwa selama didalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya makan barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.
-Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada 2 kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu, yaitu golongan elite dan golongan non elite.
-Gaotano Mosoa, sarjana Italia. menyatakan bahwa di dalam seluruh  masyarakat dari masyarakat yang sangat kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang diperintah.
-Karl Marx, menjelaskan secara tidak langsung tentang pelapisan masyarakat menggunakan istilah kelas menurut dia, pada pokoknya ada 2 macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyai dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.

C. Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial
1.      Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
2.      Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
3.      Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.




4.      Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

D. Sifat Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.      Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
- Sistem kasta.
Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
- Rasialis.
Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.
- Feodal.
Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.
2.      Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
- Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
- Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.
3.      Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi terbuka dan tertutup. Misalnya, seorang Bali berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
E. Terjadinya Pelapisan Sosial
Terjadinya Pelapisan Sosial terbagi menjadi 2, yaitu:
1.      Terjadi dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Oleh karena itu sifat yang tanpa disengaja inilah yang membentuk lapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.
2.      Terjadi dengan Sengaja
Sistem pelapisan ini dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara sengaja, mengandung 2 sistem, yaitu:
1) Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
2) Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas ( Vertikal ).


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
·         Pengertian pelapisan sosial atau stratifikasi adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).
·         Teori tentang pelapisan sosial ada tiga, yaitu:
1. Masyarakat terdiri dari Kelas Atas (Upper Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
2. Masyarakat terdiri dari tiga kelas, yaitu Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
3. Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class), Kelas Menengah Ke Bawah (Lower Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
·    Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial:
1. Ukuran kekayaan,
2. Ukuran kekuasaan dan wewenang,
3. Ukuran kehormatan, dan
4. Ukuran ilmu pengetahuan.
·         Sifat Stratifikasi Sosial:
1. Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification),
2. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification), dan
3. Stratifikasi Sosial Campuran.
·         Terjadinya Pelapisan Sosial:
1. Terjadi dengan Sendirinya, dan
2. Terjadi dengan Sengaja

B. Saran


Bagi para pembaca , penulis berharap agar ini dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada lagi pelapisan yang negative tetapi menerapkan pelapisan yang positif

Tugas Makalah ISD Tentang Masalah Sosial Kemiskinan

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dalam setiap usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya senantiasa tidak terlepas dari benturan-benturan antara lain nilai dan norma sosial dengan keterbatasan kemampuan dan sumber-sumber kebutuhan yang diperebutkan. Jika nilai-nilai atau unsur-unsur kebudayaan pada suatu waktu mengalami perubahan, dimana anggota-anggota masyarakat terasa terganggu atau tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya melalui kebudayaan tadi, maka timbul gejala-gejala sosial yang meresahkan masyarakat yang disebut dengan masalah sosial. Masalah sosial dapat berupa kebutuhan-kebutuhan sosial maupun biologis. Masalah sosial dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan pergaulan dalam masyarakat, sedangkan kebutuhan biologis disebabkan kebutuhan-kebuuhan biologis tersebut sulit atau tidak bisa lagi dipenuhi, seperti kebutuhan makan, minum, dan sebagainya.

B.  Rumusan Masalah

1.    Apakah definisi tentang kemiskinan ?
2.    Apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan?
3.    Apakah dampak yang ditimbulkan akibat kemiskinan?
4.    Bagaimanakah cara untuk mengatasi masalah kemiskinan ?

C.Tujuan

1.Agar mengetahui apakah itu kemiskinan
2.Mengetahui sebab sebab terjadinya kemiskinan.
3.Mengetahui Dampak Akibat kemiskinan.
4.Mengetahui Cara penanggulangan kemiskinan.

D.Manfaat

                 Penjelasan yang disampaikan pada makalah ini memiliki manfaat yaotu , membuka mata dan hati para pembaca untuk lebih memperhatikan masalah kemiskinan ini dan mencari bersama solusi yang tepat agar tidak ada lagi masalah kemiskinan ini














BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pengertian atau Definisi Kemiskinan

Soekanto (1995:406) berpendapat bahwa kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

B.  Penyebab Terjadinya kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun terus menerus dikembangkan untuk menyibak tirai dan mungkin “misteri” mengenai kemiskinan ini.
Secara umum ada beberpa faktor yang menyebabkan terjadinya msalah kemiskinan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Rendahnya tingkat pendidikan         
Rendahnya tingkat pendidikan seseorang dapat memicu terjadinya kemiskinan. Hal ini karena individu tersebut tidak memiliki pengetahuan atau pendidikan, keterampilan yang memadai yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan dan dapat menaikkan taraf hidup individu tersebut serta mampu memenuhi kebutuhannya.
2.        Kurangnya kreativitas individu         
Jika seseorang dapat menggunakan kretivitasnya, tidak dipungkiri mereka dapat memiliki penghasilan yang dapat menaikkan taraf hidup mereka. Mereka dapat menggunakan sarana prasarana dan segala aspek yang ada untuk mencari dan mendapatkan sumber penghasilan.
3.        Tingkat kelahiran yang tinggi
Tingkat kelahiran yang tinggi ini juga dapat memicu terjadinya kemiskinan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya pengeluaran biaya yang lebih besar, sehingga dapat dimungkinkan harta kekayaannya lama kelamaan akan terkuras. Namun hal ini berbeda untuk kelompok sosial yang memiliki penghasilan yang cukup bahkan lebih atau tetap. Mereka menganggap masih mampu menghidupi anggota keluarganya. Maka mereka tidak dianggap sebagai kelompok sosial miskin. Hal ini tampak sebagian besar di kota-kota besar.



4.        Pengaruh lingkungan hidup atau tempat tinggalnya 
Lingkungan hidup dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan. Seseorang yang berada di lingkungan miskin pasti akan ikut terbawa arus kemiskinan. Apalagi individu-individu dalam kelompok tersebut adalah individu-individu yang tidak mampu mengurusi dirinya sendiri dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya serta berada dalam gelombang kebodohan atau kelompok yang anggota kelompoknya senantiasa malas untuk bekerja.
5.        Keturunan
Tingkat ekonomi dari kelompok sosialnya dapat mempengaruhi dengan jelas. Individu yang berasal dari golongan miskin, tidak menutup kemungkinan akan memyebabkan ia ikut miskin. Karena orang tuanya tidak mampu mencukupi segala kebutuhannya, sehingga mereka menganggap kehidupannya adalah takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga kurang adanya kemauan dan usaha untuk mengubah keadaannya.
Hal-hal lain yang tampak nyata menyebabkan kemiskinan banyak terjadi di kota-kota besar yaitu antara lain arus urbanisasi. Banyak para urban dari desa datang ke kota, kebanyakan dari mereka bertujuan mencari pekerjaan. Namun banyak juga dari mereka gagal mendapatkan pekerjaan, karena mereka tidak memiliki keahlian atau keterampilan tertentu untuk bekerja di kota.Dan juga mereka tidak mempunyai sanak famili yang tinggal di kota. Sehingga hidupnya terkatung-katung tidak menentu, dan merekapun hidup di tempat yang tidak layak dihuni. Dan menyebabkan tingkat kemiskinan di kota meningkat, karena mereka tidak memiliki penghasilan dan tidak dapat memenuhi segala kebutuhannya.       

C.  Kemiskinan sebagai Masalah Sosial

Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak mrupakan maslah sosial sampai saatnya perdagangan berkembang dengan sangat pesat dan timbulnya nilai-nilai sosial yang baru. Dengan berkembangnya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkan tarf kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai masalah sosial. Pada waktu itu individu sadarakan kedudukan ekonominya, sehingga mereka mampu untuk mengatakan apakah dirinya kaya atau miskin. Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial, apabila perbedaan kedudukan ekonomi para warga masyarakat ditentukan secara tegas.

Pada masyarakat modern yang kompleks, kemiskinan menjadi masalah sosial karena sikap membenci kemiskinan tersebut. Seseorang bukan merasa miskin karena kurang makan, pakaian, dan perumahan. Namun karena harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf hidupnya yang ada. Hal ini terlihat di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta. Seseorang dianggap miskin karena tidak memiliki radio, televisi, atau mobil. Sehingga lama kelamaan benda-benda sekunder tersebut dijadikan ukuran bagi keadaan sosial ekonomi seseorang, yaitu apakah dia miskin atau kaya. Dengan demikian, persoalannya mungkin menjadi lain, yaitu tidak adanya pembagian kekayaan yang merata.



D.  Dampak yang Ditimbulkan Akibat Kemiskinan

Masalah kemiskinan yang terjadi akan menimbulkan dampak atau akibat yang dapat terjadi yaitu meningkatnya tingkat kriminalitas. Kriminalitas disini yang sering terjadi antara lain adalah pencurian, pencopetan, perampokan, dan lain-lain. Alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena mereka tidak mempunyai penghasilan untuk mencukupi kebutuhannya. Seseorang cenderung melakukan apa saja jika terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik itu dengan cara halal maupun tidak. Sehingga tingkat kriminalitas di kota-kota besar meningkat.

Selain meningkatkan kriminalitas, kemiskinan juga dapat menyebabkan tingkat kesehatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) semakin rendah. Hal ini terjadi karena masyarakat miskin cenderung kesulitan pula dalam memenuhi kebutuhan makan mereka. Sehingga kandungan gizi yang ada pada makanan yang biasa dikonsumsiny setiap hari kurang, atau bahkan sudah tidak layak konsumsi. Akibatnya, kesehatan mereka terganggu dan tingkat kesehatannya semakin menurun.

E.   Cara Mengatasi Masalah Kemiskinan

Untuk mengatasi masalah kemiskinan, sebenarnya pemerintah telah berusaha mengentaskan kemiskinan yang senantiasa terjadi, khususnya di Indonesia yang termasuk negara berkembang. Namun masalah ini tak kunjung usai, masih saja melanda sebagian besar masyarakat. Entah karena faktor masyarakat atau individunya ataupun pemerintahnya. Namun sejauh penulis ketahui, kedua faktor tersebut saling mempengaruhi. Masyarakat yang etos kerja dan kemauan untuk lebih majunya rendah bahkan tidak ada, kebanyakan mempunyai sifat pemalas dan hanya mau terima jadi tanpa mau berusaha. Untuk mengatasi masalah ini, seharusnya pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama. Pemerintah jangan hanya memberi bantuan berupa uang tunai atau bahan makanan saja. Namun juga memberi pengarahan dan pembekalan atau ketrampilan tertentu untuk masyarakat miskin, agar dapat memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk bekerja tanpa dipungut biaya. Sehingga mampu bekerja dan menghidupi keluarga tanpa menggantungkan hidupnya pada pemerintah. Untuk masyarakat sendiri diharapkan mampu melaksanakan program tersebut dengan sungguh-sungguh dan meningkatkan etos kerja. Sehingga tujuan utama dari program pengentasan kemiskinan yang sudah lama melanda sebagian masyarakat dapat teratasi. Dan masalah kemiskinan akan dapat berkurang bahkan hilang sama sekali.    










BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
                
         Dari penjabaran tentang kemiskinan , penulis dapat menyimpulkan bahwa kurangnya perhatian dari pihak pihak penting dalam Negara untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut dan kurangnya fasilitas dan dana untuk menanggulangi semua penduduk yang mengalami masalah kemiskinan.

B.Saran
        Lebih memperhatikan rakyat miskin bagi para petinggi dan orang penting Negara.